World Diabetes Day

Hidup ini manis. Tapi terlalu manis juga tidak baik. Diabetes Melitus mengancam. Kenali 10 gejala diabetes melitus. Cegah dengan konsumsi makanan sehat dan olahraga teratur. :)

NU-santara KMNU Nasional

Pengalamanku ke Bogor bersama keluarga Nahdlatul Ulama dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia

Photography

Siput ^^

Perawat Cantik dan Ganteng

Mendidik dengan hati bekerja dengan cinta. Salam Holistik! :)

Happiness

Keep your smile. :)

Selasa, 17 September 2013

Baik + Baik = Sangat Baik, Baik + Jelek = Tergantung Iman :D

          "Sesuatu yang baik itu akan jauh lebih baik kalau dikerjakan dengan cara yang baik pula." (Maftukhatun Ni'mah)
          Aku jadi teringat dengan seseorang, dulu dia sering banget sms aku, tapi gak pernah aku gubris, yah aku emang gak suka sama orang yang gak gentle, masak nama sendiri aja gak mau nyebutin, merasa gak pede dengan namanya atau entahlah, padahal dia duluan yang sms aku. Singkat cerita saking nggondoknya aku nih aku bales dengan emosional soalnya sms-nya nge-spam banget di inbox-ku, dalam serbuan-serbuan sms-nya itu salah satunya ada yang tertulis "Mbak Maftukhah..." Deg! Batinku, kok dia tau namaku, sejak sms itu aku mulai sedikit penasaran dengan orang ini, akhirnya aku pun membalas, "Tau namaku dari siapa?" Kemudian dia bales lagi "Dari isim maf'ulnya Fataha :)" *** Dueerrrrrr!!!!!!!! Rasanya tuh orang kaya' mau aku samperin terus aku sumetin mercon yang segedhe menara pabrik gula Cepiring habis itu melekin matanya pake jepitan rambut, gue ambilin kaca pembesar terus aku suruh baca sms-ku yang tadi sambil teriak "TAU NAMAKU DARI SIAPA?????!!!!" (Sadis banget yah? :/ ) Suer saat itu aku bener² nggondok gak karukaruan. Bukannya apa-apa sih, waktu itu aku masih banyak kerjaan plus aku juga gak suka aja kalau ada orang yang seperti itu, mau sms-an ya tinggal sms, sebutin nama, maksud dan tujuan, latar belakang, hasil pengamatan (Eh kok kaya' laporan praktikum ya?? --") ya setidaknya gak usah terlalu sok bikin penasaranlah. Hingga akhirnya aku sms ke orang itu yang intinya jangan pernah sms tapi pake bahasa yang aku njlimetin & mungkin (menurutku) sedikit tidak sopan lagi, isinya aku lupa. Setelah aku sms itu dia justru ngaku, itu pun masih belum clear. Tuh kan aneh, awalnya aku baik²in, sopan, ramah, halus dia gak ngaku. Eeeee tiwasan pake kekerasan malah ngaku. haduh deh --" Tapi karena aku udah tau siapa orangnya ya udah gak kubales lagi. Kan aku konsisten dengan keputusannku. Hhehe. Sebenarnya kalau boleh jujur sih aku masih ngerasa gak enak sama orang itu, tapi ya mau gimana lagi? :'( 
           ****
          Makanya aku bilang, "Sesuatu yang baik itu akan jauh lebih baik kalau dikerjakan dengan cara yang baik pula." Dari cerita pertama tadi, mungkin niat si Dia baik, pengin silaturrahmi, menjaga persaudaraan/ persahabatan, namun karena caranya yang kurang tepat dan cenderung keliru itulah yang membuat dia justru kubenci (sebelumnya) dan justru kelihatan rendah dalam kacamata karakterku.
            Yang kedua juga gitu; maunya ngajarin disiplin, jujur, bertanggung jawab tapi cara Beliau cenderung mengkudeta hak kami sebagai siswa, dia terlalu otoriter alias berkuasa penuh, mencaci kami dengan hujatan-hujatan non-etis dan kata temen-temen cenderung Kemaki. Kami benar-benar gak nyangka bisa dapat PPL yang se-sinis, kasar, sok, kemaki, dan sebagainya. Bukan cuma kelas kami yang merasakan itu, tapi mungkin juga satu sekolah yang pernah ia ajar atau sekadar ia masukin.
          Jujur, baru kali ini aku membenci Mahasiswa dengan begitu dalamnya. Sejak aku mulai dikenalkan dengan Mahasiswa KKN sewaktu aku masih nongkrong di bangku SD, kemudian di SMP menjalin kedekatan dengan jurus sharing-sharing bareng PPL maupun tutor bahasa Inggris di sana, aku gak pernah punya rasa nggondok seperti ini. Yah paling sekadar dongkol dikit karena sesuatu hal sepele ya pernahlah, namanya juga manusia, tapi itu tak berlangsung lama, paling  gak sampe 1-2 hari udah luntur kesalnya. Waktu pertama kali di ajar PPL di SMA juga nyante² aja justru mereka sangat mengesankan buat kami, sering membantu, pengertian, kompak, peduli dan yang paling penting peka+cerdas bertindak dalam menyikapi kenakalan kami, bagi kami mereka sudah menjadi guru materiil, moriil,  dan spirituil kami. ({})
          Tapi untuk yang edisi sekarang (mungkin edisi terakhir di SMA), entahlah. Aku sendiri bingung dengan penilaianku.  Yang jelas saat ini aku ngerasa gak nyaman banget dengan mereka. Semoga banyak hikmahnya Hhehehehehe Piiissss ;)
Doa Kami, Semoga kalian LULUS dengan sukses ya Mas, Mbak... :) skripsinya cepat selesai dan menjadi guru yang Joss ;)
Doakan kami juga ya, semoga kami lulus 100%, nilai memuaskan, rata-rata tinggi, masuk PTN/ PTS yang diinginkan, menjadi orang yang lebih baik dan selalu bisa mengambil hikmah dari semua kejadian melalui sudut pandang yang di ridloiNya. Aamiin :)

Mohon maaf kalau kata-kata saya menyinggung. :(

PERINGATAN!
"Tulisan ini saya buat bukan hasil rekayasa, melainkan keadaan sebenarnya. Harapan saya semoga bisa menjadi koreksi khususnya bagi saya sendiri dan untuk orang yang saya maksud (semoga), semoga bermanfaat bagi orang yang membaca, hhehe. :) Jangan menganggap tulisan (dan penulisnya) ini sebagai musuh ya. Kita cinta damai, jadi jangan marah-marah, kalau marah nanti temennya setan lho.....hheheehehehheheheheh Trims ☻" ♥

*** ( Fataha atau فتح, pada Bahasa Arab terdapat ilmu nahwu & shorof yang mempelajari tata bahasa semacam grammar)
****Eh iya, kayaknya aku belum cerita yang kedua ya??? Hhahah... Tunggu aja ya kelanjutannya :)



 Otakgalau, 17092013. 22:41
 

Senin, 16 September 2013

Cintai aku, Tuhan


 
 
 
 
Cintai aku, Tuhan
Oleh Maftukhatun Ni'mah

 

Dosakah aku, Tuhan?
Meninggalkan rumah kala jingga senja-Mu beranjak
Terlaknatkah aku, Tuhan?
Melangkahkan kaki menjauh dari ayah bunda saat adzan-Mu baru saja berkumandang
Tuhan, apakah aku golongan orang yang ingkar?
Jika aku harus menempuh jarak tempat ini sendirian sedangkan teman-teman sebayaku sedang
merasakan kebersamaan keluarga mereka
Tuhan, bodohkah aku?
Meninggalkan waktuku bersama keluarga kala Kau balikkan langit biru-Mu menjadi gelap
Tuhan, jangan murkai aku
Jangan laknati aku
Ridloi ibadahku
Dan ampunilah aku, Tuhan
Semua kulakukan untuk agama-Mu,
mempelajari tauhid-Mu,
mengenal Kekasih-Mu dan mencari ridlo-Mu
Agar aku benar-benar menjadi hamba yang Engkau cintai sebagaimana Engkau mencintai
Muhammad yang terpilih…
Tuhan, maafkan aku yang menyebut tempat ini sebagai “Penjara Suci”
Kendal, 29 Mei 2012
 

Puisi ini pernah kukirimkan di sebuah media yang akan membuat antologi puisi, tapi kayaknya tereliminasi deh. Hhaha :D
(Yaiyalah) ^-^

Aku, Sekolah, Cita-Cita dan Masa Depan


Aku, Sekolah, Cita-Cita dan Masa Depan

Oleh Maftukhatun Ni’mah/ Majalah Oasis SMA N 2 Kendal
Cita-Cita?
Penting nggak sih?
What are you thinking about this ambission?
Study!
Trying!
Future? (Kepo!)
      Bukan cuma igauan lho. Tapi itulah yang harus kita gapai. Sebuah impian yang kita jadikan cambuk dalam menyemangati hidup. Adalah tujuan dan rencana yang menjadikan langkah kita terarah, mau ke mana dan untuk apa. Sebenarnya kalau boleh jujur sih, saat aku nulis ini aku sendiri masih bingung dengan cita-citaku. Apalagi kalau inget bayangin pas suruh ngisi angket yang ada kolom cita-citanya, wuih nggak tau deh harus ngayalnya berapa lama dulu. Hingga jalan terakhir adalah ngarang, yang berujung ganti-ganti terus. Hari ini mau jadi guru. Besok jadi dokter. Besoknya lagi, penulis, ilmuwan. Dan besoknya lagi ah entahlah…. Kalau dulu sih waktu masih SD bahkan sejak TK kalau ditanya guru “cita-cita kamu nanti mau jadi apa?” jawabanya gampang, pasti yang menjadi jawabanku cuma satu: guru. Udah titik. Nggak pake mikir-mikir lama, nggak pake ragu-ragu. Pokoknya guru. Sampai-sampai banyak teman maupun tetangga yang memanggilku dengan sebutan “Bu Guru”, sebenarnya sih sempat malu, belum jadi guru kok udah dipanggil bu guru, tapi aku cuek aja, aku anggap semua itu sebagai doa mereka untukku. Yah, kurang lebih mirip tokoh Memey dalam kartun Upin & Ipin di episode cita-cita itu-lah. Tapi nggak pakai kemayu lho. Hehehe 

Photo Edited by Ni'mah

       Namun sekarang, semua sudah berubah. Pemikiran yang sekarang tak lagi serupa dengan dahulu. Tak lagi sepolos dan seunyu sewaktu TK maupun SD. Sekarang terlalu pusing dengan berbagai pilihan. Bukannya nggak konsisten sih, hanya saja terkadang merasa ragu, takut dan bingung. Terlalu disibukkan dengan berbagai pertimbangan dan ketakutan-ketakutan yang mungkin justru membuat kita lupa dengan impian kita. Bahkan, bisa dibilang yang kuucapkan waktu itu bukan cita-cita, namun sekadar khayalan yang bisa hilang kapan saja. Hingga aku berpikir tentang hidup yang seperti itu. Terbelenggu. Bingung nentuin jalan pasti yang bakal kita tempuh untuk menghabiskan umur agar hidup kita itu mulia. Seperti yang kualami sekarang ini, belum ada kepastian tentang cita-cita dan masa depan. Masih galau dan terlalu khawatir dengan resiko. (Meskipun rentetan ‘mimpi’ku sudah aku ukirkan dalam kotak skenarioku yang dengan izin Tuhan semoga menjadi nyata. Amin. :) ☺
       Jadi, nggak salah kalau guru-guru sering nggembor-nggemborin kita soal pemilihan jurusan study. Bahkan sampai repot-repot ngadain acara sosialisasi dan konsultasi antar psikolog dengan kita dan bahkan dengan orang tua kita masalah pemilihan jurusan dan profesi yang bisa diincar anaknya kelak. Karena itu akan berpengaruh pada masa depan dan pencapaian citacita kita kelak. Tujuannya apa? Tentu saja agar kita (siswa/ anak) memiliki perencanaan dan menempuh jalan yang sinkron sesuai minat dan bakat kita demi meraih cita-cita untuk hidup di masa depan. Bayangkan saja jika kita salah jalan, bukannya sampai tujuan tapi malah keblinger nggak tau ke mana. Begitu juga jika hidup tanpa tujuan. Tanpa cita-cita. Tanpa rencana. Pasti bingung, nggak cuma kita yang bingung, orang-orang di sekeliling kita pun bakalan bingung gara-gara cuma klontang-klantung gaje. Sekolah nggak niat, hidup pun nggak akan serius karena nggak ada semangat dan gairah untuk meraih sesuatu. Hidup tanpa cita-cita atau tujuan itu seperti mati, dan cita-cita tanpa usaha juga cuma bakal jadi mimpi..
       Nah, buat kalian yang sekolahnya cuma karena “terpaksa” dengan alasan “biar nggak dimarahin orang tua” dan yang belajarnya cuma buat “spesialis ujian” habis itu “barlen” alias nak wes lebar kelalen, mulai sekarang tekunlah! Belajar yang giat karena pendidikan itu penting. Bersemangat. Kenali bakat dan potensimu. Gali. Kembangkan. Tentukan cita-cita. Tentukan tujuanmu. Dan yang terpenting kita harus tau di mana passion kita. Mungkin saat ini masih bingung mau kemana dan jadi apa. Mumpung masih muda dan belum jenggotan, dari pada bingungnya itu nggak manfaat mending digunakan semaksimal mungkin untuk menuntut ilmu, menuntut ilmu bukan sekadar tau tapi juga memahami sembari mengenali passion diri kita agar bisa merancang skenario hidup yang akan kita lakukan di masa mendatang. Kemudian jadikan cita-citamu itu sebagai tujuan, motivasi dan obsesi yang membuatmu punya kewajiban untuk mewujudkannya. Benar-benar menjadi nyata, bukan sekadar keinginan yang hanya akan menguap begitu saja.
       Memang sih, hidup itu bukan sekadar soal tujuan akhirnya, melainkan juga soal proses perjalanan menuju tujuan akhir tersebut. Yang di depan mata ya dijalani dulu, jangan justru menghindar. Karena permulaan itu sedikit banyak pasti akan mempengaruhi hasil akhirnya. Tapi juga jangan terlalu lama dengan perjalanan. Yang ada cuma nyia-nyiain waktu doang buat jalaaaaaaaan terus n nggak nyampe-nyampe pada suatu tujuan. Tentang hasil di masa depansih biarlah semuanya kita serahkan kepada Tuhan, terpenting kita sudah berusaha dan berdoa semampu yang kita bisa. Manusia sebagai perencana dan akhirnya Tuhan juga yang menentukan.
       Yang masih bingung dengan cita-citamu, yuk tentukan dari sekarang. Dan berusahalah untuk menggapainya meskipun semua orang bilang itu tidak mungkin. Jangan pernah tinggalkan pendidikan. Lakukan semua kebaikan karena Tuhan, oleh dan untuk diri sendiri serta orang lain maka, Man jadda wa jadda. :)
       ” Jangan sekali-kali kamu memperkecil cita-citamu,karena sesungguhnya aku tidak melihat seseorang yang terbelenggu kecuali karena ia tidak memiliki cita-cita.” (Umar bin Khattab)


Minggu, 15 September 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PERANAN ENZIM KATALASE







TUGAS BIOLOGI
LAPORAN PRAKTIKUM
PERANAN ENZIM KATALASE
 
 
 
 
Disusun Oleh:
Maftukhatun Ni'mah       XII IPA 1/ 18
 
 
 
SMA NEGERI 2 KENDAL
2013/2014
 
 

Kamis, 26 Januari 2012

Sebelum Kesal Berujung Sesal



Rasa kesal sering muncul pada diri kita. Bener nggak…??! Entah kepada teman, saudara, tetangga, guru, pacar atau bahkan kepada orang tua kita sendiri. Rasa kesal itu bisa muncul karena mendapat perlakuan kurang baik dari orang lain. Walaupun orang itu belum tentu salah. Seperti kesal karena dicuekin, nggak disapa teman atau tetangga, dimarahi guru gara-gara nggak buat PR, SMS nggak dibales, telepon tak diangkat, janji tak ditepati atau nggak dikasih uang jajan sama orang tua. Rasa kesal ini jika tidak segera diredam akan menimbulkan su’udzan, amarah dan bahkan retaknya tali persaudaraan.

Kita harus segera menetralisir kekesalan kita sebelum semua berbuah penyesalan. Dengan kita berhuznudzan dan senantiasa beristighfar, kemungkinan hal buruk akibat dari rasa kesal bisa diminimalisir. Hati pun takkan resah dan merasa tenang.
Memang sih kesal terhadap orang lain itu sudah sering dan biasa terjadi. Tapi akan lebih baik jika kita menghindari rasa kesal yang berkepanjangan itu dengan huznudzan; mungkin saja orang yang nyuekin kita sedang tidak berkonsentrasi atau banyak fikiran, teman atau tetangga kita yang lewat tak melihat kita sehingga tak menyapa, guru memarahi kira dengan tujuan agar kita disiplin dan tidak mengulangi kesalahan lagi, bisa jadi yang di-SMS HP-nya sedang di-charge sehingga nggak aktif dan orang yang ditelepon sedang sibuk atau mungkin orang tua kita sedang nggak punya uang.
Sebenarnya, rasa kesal itu muncul tergantung kita menyikapi keadaan dan memandang orang itu. Seringkali prasangka buruk yang kita voniskan kepada orang nggak sesuai dengan kenyataannya. Karena itu, Nabi bersabda,
“Jauhilah olehmu berprasangka buruk (su’udzan), karena prasangka buruk itu adalah sedusta-dusta perkataan.” (HR. Bukhari)
Lebih baik jika kita menginstropeksi diri lebih dahulu sebelum kita menyalahkan orang lain. Bisa saja perilaku kurang baik yang kita terima merupakan efek dari tingkah laku kita sendiri. Dunia ini berputar. Seperti halnya diri kita. Terkadang kita didzalimi orang, tapi tak jarang pula kita mendzalimi orang. Ngono pow...??! hhehhe (^_^”)
Rasa kesal juga dapat dipicu oleh banyak hal lain, mialnya dicela, dihina, digunjing, tidak dihargai pendapat atau bantuan kita, tidak diperhatikan alias dicuekin, disakiti, mendapat jawaban sengak dari orang yang kita tanya dengan baik-baik, atau hak kita dirampas. Hati-hati !, bila kesal muncul karena hawa nafsu bisa jadi itu adalah bisikan setan yang akan berusaha menanam permusuhan antara kita. Naudzubillah min dzalik.
Dan kesal yang seperti itulah yang akan berdampak sangat fatal. Jika iman kita takkuat, tak beristighfar, dan selalu membesar-besarkan su’udzan, nafsu untuk melampiaskan pembalasan atas kekesalan yang kita terima akan semakin menjadi-jadi. Celaan dan hinaan akan mudah terluncur dari lidah kita. Belum lagi rasa nggondok dan ketidaktenangan hati. Bahkan penganiayaan dan pembunuhan serta fitnah pun bisa terjadi karenanya.
Kita ambil contoh dari peristiwa yang belum lama ini terjadi di wilayah kabupaten Kendal, yaitu pada Sabtu 10 September 2011 sore. Terjadi tawuran antara warga desa Ringinarum dengan desa Ngrejo, kecamatan Ringinarum.
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari berbagai situs (Detik.com & Kompas.com), kejadian itu bermula dari masalah sepele. Empat remaja desa Ngrejo melintas di dukuh Maron, desa Ringinarum. Karena mengendarai motor dengan ugal-ugakan, seorang warga dukuh Maron, Solekhah, menegur keempatnya. Namun keempat remaja itu malah mencacimaki Solekhah.
Tidak terima ibunya dicacimaki, Alex, anak Solekhah menghajar salah satu dari keempat remaja tersebut. Masalah tak berhenti. Setelah keempat remaja itu kabur ke desanya, mereka kembali lagi ke dukuh Maron seraya mengajak kawan-kawannya yang lain untuk mencari Alex. Karena tidak ketemu, beberapa remaja dari desa Ngrejo lantas mengobrak-abrik jemuran terbakau milik warga dukuh Maron. Warga setempat tidak terima dan tawuran pun pecah.
Dalam peristiwa itu, lima orang korban yang seluruhnya warga desa Ringinarum terkena tusukan senjata dari warga desa Ngrejo. Tiga diantaranya tewas dan dua lainnya kritis.
Itulah kurang lebih cerita salah satu contoh kesal yang berdampak sangat fatal. Dan akhirnya berujung sesal. Nggak hanya itu aja, bahkan masih banyak lagi kejadian tawuran seperti itu hanya gara-gara hal-hal sepele, dan pada umumnya disebabkan oleh kenakalan remaja. Seperti tawuran yang terjadi antara warga desa Ngilir dengan warga desa Bandengan dulu.
Ada juga kisah nyata dari Bandar Lampung, seorang ibu nekat membakar anaknya yang berusia 6 tahun lantaran kesal atas tingkah laku anaknya yang bandel. Sungguh kejam ibu itu! Ditaruh di manakah nuraninya sehingga nekat membakar anaknya sendiri. Bukankah perilaku anak itu mengikuti orang tua yang mendidiknya? Emosi selalu menguasai diri manusia. Sama halnya ketika kita menyuruh adik/teman kita untuk membeli telur. Tapi saat perjalanan, nggak sengaja telur itu jatuh dan pecah. Kemudian kita memarahi, memaki atau bahkan memukul adik/teman kita. Lalu, apakah setelah kita marah, telur yang tadi sudah pecah akan kembali utuh lagi..?! nggak kan..? Bahkan malah akan menambah masalah dan masalah.
Beberapa kejadian di atas hanyalah contoh kecil dari seabreg tragedi yang disebabkan oleh rasa kesal yang tidak di-manage dengan baik. Memang banyak faktor yang membuat rasa kesal dan jengkel timbul, banyak pula sumbu pemicu yang mengantarkan rasa kesal menjadi amarah, hingga akhirnya berujung pada pelampiasan yang berubah penyesalan.
Apapun sebabnya, rasa kesal bila tidak diolah dan disikapi dengan baik, akan berakibat buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Rasa kesal yang pada umumnya hanya dipendam dalam hati dan tidak tampak bisa diatasi dengan cara-cara seperti berikut :
a. Menghilangkannya dari hati. Sebisa mungkin, bila rasa kesal muncul agar diredam jangan sampai terbawa emosi.
b. Perbanyaklah membaca istighfar dan ta’awudz, insyaallah rasa kesal akan hilang.
c. Jangan sekali-kali kita membalas makian dengan makian atau cacian dengan cacian karena orang suka akan dunianya (kaya’ pramuka ae..), lebih baik kita diam dan menahan nafsu amarah. Ini bukan merupakan sikap pengecut tapi inilah karakter yang kuat dan perkasa.
d. Berwudlu. Dengan berwudlu hati kita insyaallah akan merasa tenang.
e. Berhuznudzanlah atau positive thinking yaitu dengan barpikir dan memposisikan diri kita sebagai orang lain dalam arti kita berpikir dari sudut pandang orang lain. Mungkin saja orang tersebut punya maksud lain yang lebih mulia untuk kita atau dia juga sedang kesal.
f. Pahamilah sifat dan watak orang lain sebelum kita memintanya memahami diri kita.
g. Introspeksi diri sebelum berprasangka kepada orang lain. Karena bisa jadi perlakuan kurang baik yang kita terima merupakan balasan dari tingkah laku kita sendiri.
h. Utarakan kekesalan kita pada orang yang membuat kita kesal. Dengan begitu kita bisa tahu kesalahan kita begitu juga sebaliknya.
Begitulah kurang lebih cara-cara mengelola rasa kesal agar akhirnya tak berujung sesal. Ingatlah jika rasa kesal tidak segera dipadamkan akan menjadi amarah dan dendam. Tahan dan maafkan! Dengan begitu insyaallah kita mendapatkan ampunan-Nya;
“Dan segeralah kamu kepada ampunannya dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran 133-134)
(Maftukhatun Ni’mah)